Wabah COVID-19 banyak pekerja yang terancam!
Dear Kamu,
Cerita ini tentang COVID-19 yang resmi dinyatakan sebagai Pandemi Global di tahun 2020 ini. Tidak ada lagi rasa aman dan nyaman beraktivitas, semua terbatas dan dibatasi. Sadisnya ini berlaku ke seluruh lapisan masyarakat.
Banyak ancaman yang dirasakan semua orang, terutama di Indonesia dari semenjak bulan Maret. Di Maret 2020, Pemerintah Indonesia mulai menerapkan protokoler perilaku physical distancing and constant hygiene dalam banyak aspek. Beri jaga jarak, gunakan masker setiap saat, hindari kerumunan dan berpergian, hindari memegang benda yang tersentuh banyak orang, cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, bersihkan diri setelah habis dari luar rumah dan banyak lagi protokoler pencegahan COVID-19.
Sejak bulan Maret, kita diminta untuk #dirumahaja, membatasi kegiatan luar rumah, kantor menerapkan work from home (termasuk kantormu yang dari Maret sampail awal Juni menerapan kerja dirumah 100%), pesawat domestik dan internasional dihentikan.
Berkat virus ini kita jadi semakin paham, nyawa dari Masyarakat itu adalah ketika bisa hidup berkelompok. Dampak COVID-19 ini bikin Masyarakat jadi hancur sehancur-hancurnya
Salah satunya produsen dan konsumen yang terkena imbasnya, contohnya dari sisi dunia hiburan Bioskop, Mall, Restaurant, Konser, Cafe dan lainnya pun terkena kewajiban untuk patuh jaga jarak fisik jadi konsumen pun tidak bisa menimakti hiburan yang biasa dinikmati.
Pekerja dan pemberi kerja pun terkena dampaknya, pekerja terpaksa harus merumahkan pegawainya karena berkurangnya pengunjung atau pun usaha mereka harus memangkas biaya operasional salah satu cara pemangkasan biaya operational adalah pengurangan pegawai.
Kamu termasuk salah satu yang beruntung, teman-teman pekerja yang lain banyak yang "dirumahkan" begitu istilahnya sekarang, banyak juga yang dipotong gajinya. Kamu, masih aman.
Sejujurnya "masih aman" adalah kalimat yang sangat menakutkan untuk saat ini buat KAMU, karena pertanyaan selanjutnya adalah "Sampai Kapan"!
Penjelasan paling sederhana, kamu bekerja sebagai pegawai di sebuah yayasan non-profit yang idak mengambil keuntungan, tidak membuat, menjual atau pun memasarkan produk tertentu. Yayasan yang sangat berkaitan dengan komunitas, perputaran uang dalam organisasi seperti ini didapat dari pendanaan donatur yang biasanya mengharuskan si penerima dana melakukan kegiatan yang harus dicapai. Kegiatan kantormu yang sekarang ini 100% dengan komunitas masyarakat.
Jika penyebarannya tidak menurun lalu sampai kapan organisasi seperti kami ini dapat bertahan, apakah nantinya akan ikut pendahulunya dimana harus mengurangi pegawainya?
Tiba banyak pikiran terlintas "oh ini kenapa orang mau jadi Pegawai Negeri Sipil", "Kenapa tidak cari kantor yang lebih stabil?", "Kenapa dulu ninggalin perusahaan yang sudah stabil"
Kejadian Bapak sakit sudah membuat kerisauan finansial, banyak banget pemikiran yang malang melintang di pikiran. "apa dana darurat 3 bulan sudah ideal?", "apa seharusnya kesiapan dana darurat harus untuk kebutuhan 6 bulan atau kalau bisa sampai 12 bulan mendatang", "sudah 10 tahun bekerja kenapa tidak ada aset dan investasi lain yang bisa dijadikan pegangan finansial", "tinggal sedikit bulan lagi dari terbebas hutang kartu kredit, tapi apa tetap perlu untuk kebutuhan darurat?", "masih hidup merantau, harus siapkan dana lagi untuk sewa tempat tinggal tahun depan" dan "apa tahun depan masih punya kerja?!!"
aaaghhhh semua pikiran berkecamuk, akhirnya situasi kerja dirumah dijadikan moment khusus untuk melakukan THE BLACK PERIOD!
Comments
Post a Comment